JUNUB SARANA PESUGIHAN

Kemarin jam ke  7-8 saya ada jadwal memasuki kelas otomotif, seperti yang seringkali saya lakukan, sebelum masuk dalam materi selanjutnya pada saat jam tersebut saya menanyakan tentang sesiapa saja yang belum melaksankan shalat duhur, memang jam 7-8 adalah jam setelah istirhat ke dua sekaligus jam melaskanakan shalat dhuhur.
Banyak diantara mereka yang mengangkat tangan, hampir semuanya malah. Pertanda bahwa mereka semua yang mengangkat tangan telah melaksanakan kewajiban sebagai orang Islam yang baik. Namun, ada satu anak yang diam dan tak mengangkat tangan, menundukan kepalanya.
Melihat anak tersebut, saya mengulang peratanyaan kembali “sudah melaksanakan shalat dhuhur semua?” anak tersebut tetap dalam posisi diam, menundukan kepala seolah tak menggubris pertanyaan saya.
Kemudian saya menyampaikan pertanyaan yang khusus tertuju ke anak tersebut. “sukri, Sudahkah kamu melaksanakan shalat dhuhur?” belum pak? Jawabnya singkat. Loh kenapa? Responku singkat. Maaf pak, saya semalam mimpi basah, dan sampai saat ini belum mandi besar. Owwwwhhh begitu, timpalku menanggapinya.
Saya mengalihkan pandangan keseluruh sudut kelas, seraya mengamati anak anak yang lain, yang ternyata banyak wajah  tercengang mengarah kepada sukri, tentu sebab jawaban sukri yang gamblang dan mungkin vulgar bagi teman-temannya.
Oke gaes…!! Semuanya tolong perhatikan saya, sebelum masuk dalam materi pembahasan kita semua patut bereterima kasih kepada sukri, sebab karenanya saya mau membahas perihal  mandi besar alias Junub!
12$%^&**()Q*&25628908&^&&&^%$#@!$%&()_+~@$^*())_____)(*&^%%$#@@!@#$%*())_++~!@#$%^*((&&^^&**(()^%$$#@@@!@$%^&*(()))__+++++)(((***&&&^^%%$$$$$####@@@@@!!!~~~#$$%^^$^*(&^^%$#@!#$%%^^&&&**&^^(())))*&&^&***%%$$$##$%^^^^^^^^^&&%$##$^(*^$$#%^^%$#$. paham? Jadi ini sebagai perhatian untuk semua, tidak hanya untuk sukri, sebab saya beberapa kali mendengar alasan seperti ini, saya yakin ada yang pernah melakukan hal yang sama seperti sukri, tapi tidak berani mengungkapkannya. Maka sekali lagi tepuk tangan untuk kejujuran sukri, dan berterimakasihlah kepadanya karena lantaran dialah kalian mendapatkan informasi atau teringat kembali tentang “BAB JUNUB”. Sekarang , kita lanjutkan pembahasan minggu lalu..!
Hatiku bergumam dengan sok-ok an, “Memang medan juang saya hanya lingkup perkara remeh temeh, skala kecil, bahkan untuk dikatakan skala pun belum masuk ke kategori, sebab begitu amat kecil. Tapi tak apa, ini yang harus “ditelateni”, sebab dari kecil akan tumbuh menjadi besar, sering kalipula orang berjalan tersandung oleh batu yang kecil, ah tidak nyambung. Hahahaha, tapi Gusti, bila ini memang medan juang saya, perkara remeh temeh ini butuh ketelatenan, telaten itu butuh waktu yang tidak sedikit, bila saya focus dengan hal yang tlaten tlaten seperti ini bagaimana dengan keluarga saya, bukannya saya harus menafkahi, mencari rizki. Nanti malah saya tidak focus keduanya. Atau bagaimana kalo saya mengajukan penawaran, ngapunten loh Gusti. “bila panjenengan Sebagai Gustiku menempatkan medan juang saya dalam perkara yang remeh temeh, tapi butuh ketelatenan sedang secara duniawi ini tidak ada “maaf”bayaran cash, sedang kebutuhan hidup saya dan keluarga itu perlu cash, yaaaaa panjenengan jadikan saya orang yang kaya saja lah, baik tanpa sebab “ujug-ujug”kaya raya, atawa bila kurang pantes, gak enak sama hambaMu yang lain ya berikan saya ladang usaha, bisnis, atawa pintar dalam permakelaran, atawa bakul Ingser pun tak masalah, intinya jadikan saya banyak uang, orang kaya agar saya bisa focus menelateni medan juang saya yang remeh temeh itu. Pripun Gusti, angsal?
Plakkkkk….!!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "JUNUB SARANA PESUGIHAN"

Posting Komentar